` MENEPIS TUDUHAN TERORISME Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi : Imam Bukhari

MENEPIS TUDUHAN TERORISME Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi

Fri 3 رجب 1438AH 31-3-2017AD Aqidah dan Manhaj

Syaikh Ali bin Hasan mengatakan:

Tema seputar irhab (terorisme) menjadi pembicaraan hangat di setiap lapisan masyarakat dan ittijahat (berbagai pihak dengan berbagai kepentingannya). Setiap negara memperbincangkannya, baik negara Islam atau bukan. Semua orang juga berbicara tentang irhab. (Begitu pula) orang-orang Islam dan non-muslim, anak-anak, dewasa dan wanita. Mereka semua membicarakannya. Sehingga, perlu disampaikan sebuah pernyataan yang menyejukkan dan menentramkan yang dapat menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.

Kata irhab menurut tinjauan syari’at pada asalnya bukanlah kata yang dibenci. Bahkan ia merupakan kata yang mendapat porsi makna tersendiri di dalam syari’at dan di dalam Al Qur`an. Allah berfirman (yang artinya): Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan (membikin irhab pada)  musuh Allah. (QS An Anfal: 61).

Rasa gentar dan takut yang menyelinap di hati para musuh Islam, adalah ketakutan luar biasa,  yang difirmankan Allah (artinya): Kelak Aku jatuhkan rasa takut ke hati orang-orang kafir. (QS Al Anfal:12). Dan juga disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi salam , (artinya): Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan kepada musuh) sejak sebulan perjalanan. (HR  Bukhari   ).

Jadi, kata irhab menurut istilah Islam yang Qur’ani bukanlah irhab dalam kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini, dan bukan pula irhab dalam kejadian mencekam yang problematis sekarang ini.

Sebab irhab menurut konteks kekinian dan menurut peristiwa problematis sekarang ini, identik dengan kerusakan, perusakan, pembunuhan membabi buta dan peledakan yang dilakukan secara ngawur, tanpa dasar petunjuk, bayyinah (bukti nyata) serta bashirah (ilmu) sama sekali. Akan tetapi hanya berdasarkan dorongan semangat dan emosi semata. Dengan dalih, sebagai pembelaan dan kecintaan terhadap agama. Namun, tidak semua orang yang mencintai agama, dapat melaksanakan agama dengan baik dan benar. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Berapa banyak orang  yang menginginkan kebaikan, namun tidak dapat meraihnya”.

Demikianlah, sesungguhnya prinsip dan asas Islam dalam jihad bertumpu pada perbaikan dan penyebaran hidayah, bukan penghancuran, pembunuhan atau peperangan, namun bermisi menebarkan hidayah kepada manusia. Mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Dari kezhaliman serta keputusasaan menuju kebahagian dan curahan kebaikan. Acuannya terdapat pada firman Allah, (yang artinya): Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang  yang melampaui batas. (QS Al Baqarah:190).

Allah menghubungkan terjadinya peperangan,  disebabkan oleh peperangan, tanpa  boleh bertindak melampaui batas. Dan Allah menjelaskan pada akhir ayat, tindakan yang bengis dan kejam ini tidak disukai Allah Ta’ala. Allah berfirman (artinya) “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Bahkan Al Qur’an melukiskannya  dalam gambaran yang indah dalam ayat, (yang artinya): Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanah:8).

Dalam ayat pertama Allah mengatakan Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang  yang melampaui batas”. Sedangkan pada ayat kedua Allah berfirman “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. Inilah hakikat Islam dengan risalahnya yang luhur, prinsip-prinsipnya yang universal, bersifat baik dan berorientasi memperbaiki kondisi, tidak dibatasi oleh dimensi waktu maupun ruang, supaya menjadi agama Allah yang terakhir sebagai perwujudan firman Allah, (yang artinya): Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah adalah Islam, dan firmanNya, (yang artinya): Barangasiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya.

Begitulah agama Islam, keagungannya tercermin pada pribadi Nabi Muhammad yang bersabda, (artinya): Ketahuilah, aku diberi Al Qur’an dan (wahyu) serupa datang bersamanya”.

Nabi menganggap bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian dengan orang kafir yang sedang dalam ikatan perjanjian bersama kaum muslimin, baik atas permintaan orang kafir atau atas ajakan kaum muslimin. Nabi menganggap pengkhianatan itu sebagai dosa besar. Beliau bersabda, (artinya): Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad (dalam perjanjian dengan kaum muslimin), niscaya ia tidak akan mencium aroma syurga. (Padahal) aroma syurga dapat tercium sejak empat puluh tahun perjalanan. (HR Bukhari, no. 3.166).

Cermatilah wahai kaum Muslimin dengan cara pandang Islam yang luhur, yang tercermin dalam syari’at yang bijak, dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Bandingkanlah dengan fenomena memenyedihkan yang terjadi di banyak negara, termasuk negara ini (Indonesia, Red). Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, dengan dalih jihad dan menegakkan semangat amar ma’ruf nahi mungkar, yang akhirnya mengguncang stabilitas keamanan dan mengacaukan masyarakat. Efeknya, terjadi pembunuhan terhadap jiwa orang Islam. Padahal, darah mereka lebih terhormat di sisi Allah dibandingkan Ka’bah yang mulia.

Kemana mereka dengan ilmu (yang dimilikinya), atau (lebih pantasnya) dengan kebodohannya? Kita tidak akan lupa terhadap tindakan mereka yang sadis dengan  mengatasnamakan Islam, padahal sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam. Tidak ada toleransi bagi kita atas perbuatan mereka ini, ketika didapatkan di antara mereka memperoleh penganiayaan, serta penyiksaan. Sebab Allah telah berfirman, (yang artinya): Dan balasan kejahatan adalah kejelekan serupa.  Tentu saja semua itu masuk dalam pedoman-pedoman syar’i.

Apalagi, mereka melakukannya dengan keburukan, tentunya akan mendapatkan imbalan keburukan yang berlipat ganda. Tindakan mereka tanpa pedoman ilmu, tanpa bayyinah (bukti), tanpa petunjuk,  dan tanpa taufikNya.

Saya kagum dengan ungkapan seorang da’i ketika menggambarkan para pelaku aksi-aksi merusak tersebut dengan mengatasnamakan Islam, yang mungkin dengan niat baik. Namun, niat baik tidak akan mengubah amalan jelek menjadi amalan shalih. Sebab  sabda Nabi, (yang artinya): Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, maksudnya, sesungguhnya amalan baik tergantung niatnya yang baik pula.

Da’i itu mengatakan: “Sesungguhnya masalah utama kita dengan orang-orang itu, terletak pada permasalahan akal-akal mereka, bukan terletak pada hati-hati mereka”.

Mungkin hati mereka berniat baik, tapi itu belum cukup, sebab harus bersesuaian dengan petunjuk Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Bagaimana kalau peristiwa ini dimanfatkan oleh pihak-pihak musuh  dengan memperalat mereka untuk merusak dan menodai citra Islam?

Dalam kesempatan ini saya ingin menyebutkan satu perkara yang harus ditulis  oleh sejarah dan harus diabadikan sepanjang masa. Bahwa dakwah Salafiyyah dengan para ulamanya, da’i-da’inya, penuntut ilmunya dan guru-gurunya, benar-benar telah memperingatkan bahaya pemikiran-pemikiran ekstrim dan menyimpang ini. Pemikiran-pemikiran yang telah diingatkan oleh Nabi n dengan sabdanya, (artinya): Hati-hatilah, jangan sekali-kali bersikap ghuluw (berlebihan) dalam agama. Sesungguhnya hal yang telah membinasakan orang-orang sebelummu hanyalah sikap ghuluw mereka dalam agama mereka.

Dakwah Salafiyah yang diberkahi ini telah memperingatkan bahaya pemikiran-pemikiran menyimpang tersebut sejak lebih dari 20 tahunan, dan semakin menggema peringatan itu semenjak sepuluh tahun belakangan, sebelum kita mendengar di radio, koran, majalah dan media massa lain tentang  issu terorisme.

Para ulama dakwah Salafiyah telah mengingatkan bahaya sikap ghuluw yang dibangun berdasarkan penyimpangan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah ini, sejak bertahun-tahun lamanya, dengan maksud agar istilah-istilah  syar’i tertanam secara mengakar, kemudian meletakkannya sesuai dengan tempatnya. Baik berkaitan dengan istilah jihad; batasan-batasan, hak-hak serta ketentuan-ketentuannya, atau berkaitan dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar; batasan-batasan, hak-hak serta ketentuan-ketentuannya, atau istilah kufur dan takfir, ataupun istilah-istilah lain yang maih banyak lagi.

Ini merupakan poin penting yang harus dicamkan dalam benak dan ditanamkan dalam hati, supaya al haq  (kebenaran) sajalah yang menjadi penuntun dan pembimbing.

Sebagai penutup ceramah saya, ini (saya sampaikan) dua hal penting yang berkaitan erat dengan negara ini, yang penduduknya baik-baik, mengagungkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dua perkara tersebut ialah:

  1. Negara ini adalah negara Islam terbesar yang berpenduduk lebih dari 200 juta, mayoritas adalah muslimin. Islam tersebar dengan luas di negeri ini sejak beberapa abad lalu, tidak dengan pedang, tetapi dengan akhlak, iman dan amal shalih. Mana bukti tuduhan terorisme kini yang ingin dilekatkan kepada Islam, yang -sebenarnya- sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam? Kita bersyukur kepada Allah, sebab di awal abad sebelumnya, Allah telah menempatkan sorang alim, yaitu Syaikh ‘Allamah Ahmad Asy Syurkati yang meluruskan garis perjuangan, berdakwah kepada Al Kitab dan Sunnah, memerangi syirik, khurafat, kesesatan, menyeleksi hadits yang dha’if dan memerangi bid’ah. Tokoh ini, telah bekerja untuk mentauhidkan  negara ini berdasarkan ilmu yang murni dan manhaj yang benar.
  2. Keharusan membedakan antara hakikat terorisme dengan pembelaan terhadap tanah air muslimin. Kalau ada negara menjajah negara lain, maka pembelaan diri tidak termasuk terorisme, meskipun menurut pengertian para musuh Islam. Justru (pembelaan ini) merupakan kewajiban yang diperintahkan sesuai dengan kemampuan dan kemudahan yang dimiliki. Negara ini juga selama empat abad melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dan berhasil mengusir mereka dari tanah air.

 

Semoga  Islam tetap berkibar di negara ini, sehingga hati menjadi penuh dengan kebahagiaan, dan jiwa manusia dipenuhi keimanan.

Dinukil dari majalah As-Sunnah


Posting terkait dengan MENEPIS TUDUHAN TERORISME Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi