` MEMBINA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM : Imam Bukhari

MEMBINA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM

Fri 3 رجب 1438AH 31-3-2017AD Keluarga

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Qur’an:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al Hujurat:10).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang muslim adalah saudara dari muslim lainnya, dia tidak akan menzhaliminya dan tidak akan membiarkannya. Orang yang membantu saudaranya, maka Allah akan membantunya. Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesusahan, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan diantara kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat. (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, Allah dan Rasul-Nya mengabarkan kepada kita bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Demikian ini diperintahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam dengan sabdanya:

وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Dan jadilah kalian bersaudara, wahai hamba-hamba Allah.

Persaudaraan yang diperintahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam ini bukan sekedar ucapan lisan saja, atau pengakuan-pengakuan kosong. Tetapi ia membuahkan rasa yang tertanam di jiwa. Akarnya adalah cinta yang murni karena Allah. Hasilnya adalah pergaulan yang baik dengan saudaranya, dan kemudian  membelanya. Sebuah persaudaraan yang menuntut agar mencintai buat saudara kita, apa yang kita cintai buat diri kita sendiri; senang melihat saudaranya menjadi orang shalih, berwibawa, kuat, kaya dan berakhlak mulia. Persaudaraan ini juga menuntut untuk saling nasihat-menasihati dengan cara terbaik, agar tujuan bisa tercapai.

Persaudaraan ini, juga menuntut agar kita membenci buat saudara kita, segala apa yang kita benci buat diri kita; tidak senang melihat saudara kita menjadi orang yang rusak, lemah, hina dan memiliki akhlak yang rendah. Jika kita melihat saudara kita rusak, maka kita tidak cukup hanya mendo’akan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar diperbaiki kondisinya. Akan tetapi, hendaklah berdo’a kepada Allah dan sambil melakukan usaha yang bisa menyelamatkan saudara kita dari kerusakan tersebut.

Diantara tuntutan lainnya dari persaudaraan ini, yaitu tidak menzhalimi saudara kita; baik dalam masalah hartanya, darahnya dan harga dirinya, sebagaimana kita tidak suka jika dizhalimi dalam masalah-masalah tersebut. Mungkinkah ada orang yang mengaku bersaudara dengan orang lain, sementara pada saat yang sama, dia mengambil harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan syari’at? Atau merebut barang yang sedang dalam tawaran saudaranya? Atau melamar wanita yang sedang dalam pinangan saudaranya? Mencari-cari aib saudaranya, lalu dibeberkan di khalayak ramai? Merusak kehormatan saudaranya dengan ghibahnya (gunjingan)? Ini semua tidak mungkin dilakukan oleh seseorang kepada saudaranya, kecuali jika persaudaraan itu hanya sebatas pengakuan semata.

Khusus mengenai perbuatan terakhir, yaitu menzhalimi saudaranya dengan cara mengghibahnya, ini merupakan perbuatan dosa besar. Namun layak disesalkan, ternyata perbuatan ini telah meluas dan diremehkan oleh orang-orang, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala  sangat jelas menerangkan masalah ini dalam firmanNya:

وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. (QS Al Hujurat:12).

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam :

وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

Barangsiapa membantu saudaranya, maka Allah akan membantunya.

Alangkah besar balasan yang Allah janjikan. Misalnya, saudara kita mempunyai kebutuhan, kemudian kita datang memenuhi dan membantunya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala  akan memenuhi kebutuhan dan akan membantu kita dalam memenuhinya. Maka semua orang yang beriman dengan janji Rasulullah, sudah semestinya senantiasa membantu saudaranya. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk saudara kita. Misalnya, membantu yang kehilangan, membantu orang yang dizhalimi atau yang berbuat zhalim, membantu saudara kita yang lemah baik secara ekonomi atau fisik, dan tentunya masih banyak lagi  sesuai kemampuan diri kita masing-masing. Intinya, orang yang membantu kebutuhan saudaranya, baik nilainya besar ataupun kecil, maka Allah akan membalasnya sesuai dengan keikhlasan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam. Rasulullah n ditanya: “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau n bersabda,”Jika engkau menjumpainya, maka ucapkanlah salam kepadanya. Jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Jika ia meminta nasihat, maka nasihatilah ia. Jika ia bersin lalu mengucapkan alhamdulillah, maka do’akanlah (dengan yarhamukallah). Jika ia sakit, maka jenguklah ia. Dan jika ia meninggal, maka iringilah jenazahnya (ke kubur). (HR Muslim).

Dalam hadits ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam memberitahukan bahwa seorang muslim memiliki hak atas muslim lainnya. Diantara hak-hak itu, ialah mengucapkan salam ketika berjumpa. Jika jauh darinya atau kira-kira tidak mendengar salamnya, maka hendaklah ia menggabungkan antara mengucapkan salam sambil memberikan isyarat, agar saudaranya mengetahui bahwa saudaranya mengucapkan salam kepadanya.

Sunnahnya, orang yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua. Yang lebih sedikit jumlahnya kepada yang lebih banyak. Orang yang berada di atas kendaraan kepada yang jalan, dan yang jalan kepada yang duduk. Jika orang yang semestinya memulai salam ini tidak memulainya, maka hendaklah yang lain mengucapkan salam. Jangan sampai sunnah ini ditinggalkan, apalagi diganti dengan ucapan-ucapan yang tidak diajarkan syari’at, seperti: hai, hallo, dan lain sebagainya. Karena perbuatan mengganti seperti itu merupakan perbuatan mengekor kepada orang-orang kafir. Wal iyadzu billah.

Alangkah naif, jika ada seorang muslim berjumpa dengan saudaranya lalu mengucapkan kata-kata orang kafir dan bukan mengucapkan salam sebagaimana petunjuk RasulNya. Padahal kita sudah mengetahui, salam itu memiliki berbagai kelebihan dan keutamaan. Oleh sebab itu, hendaklah kita menghidupkan sunnah ini, supaya tali persaudaraan kita semakin kokoh.

Diantara hak saudara kita juga, yaitu memberi nasihat jika saudara kita itu meminta nasihat. Sehingga hendaknya kita memberikan saran dengan sesuatu, yang juga kita sukai bagi diri kita sendiri. Janganlah menipu saudara kita. Jika saudara kita mengajak bermusyawarah tentang bersahabat dengan seseorang atau menikahi seseorang, maka hendaklah kita memberikan saran ke arah kebaikan. Juga memperingatkannya dari bahaya yang mengancamnya, jika ia bergaul atau menikah dengan orang tersebut. Dan jika saudara kita meminta penjelasan tentang sesuatu yang harus dijauhi, maka hendaklah kita menjelaskan kepadanya agar ia menjauhinya, sebagaimana Rasulullah n menjelaskan kepada Fathimah binti Qais tentang dua lelaki yang melamarnya.

Diantara hak saudara yang lainnya, yaitu mendo’akannya jika bersin. Kita disunnahkan mengucapkan “yarhamukallah” kepada orang yang bersin lalu dia mengucapkan “alhamdulillah”. Jika ia tidak mengucapkan “alhamdulillah” maka kita tidak disunnahkan mendo’akannya. Hal seperti ini juga masalah yang banyak dilalaikan banyak orang, baik yang bersin ataupun yang mendengarnya. Orang yang bersin, tidak lagi menganggap bahwa itu merupakan rahmat Allah k , sehingga kita menyaksikan mereka tidak lagi mengatakan alhamdulillah; akan tetapi justru mengucapkan kata-kata yang tak bermakna, bahkan kadang mengandung dosa.

Hak lainnya bagi seorang muslim atas muslim lainnya juga, yaitu menjenguknya ketika sakit. Orang yang sedang menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit, maka ia senantiasa dalam kebaikan. Orang yang sedang menjenguk orang sakit, hendaknya mengucapkan kata-kata yang bisa menimbulkan optimisme pada saudaranya yang sakit, dan mendo’akan sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah, karena itulah sebaik-baik petunjuk. Juga jangan lupa untuk mengingatkan saudara kita yang sedang sakit, agar senantiasa mengingat dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia sesuai kemampuannya. Demikian juga dalam hal mengurus jenazahnya bila saudara kita meninggal. hendaknya ikut mengiringinya sampai kubur.

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita keikhlasan. Dan semoga Allah menjaga hati kita tetap dalam tali persaudaraan keimanan.

 

 

Di adaptasi dari Khutbah jum’at majalah assunnah edisi 8 tahun ke VIII


Posting terkait dengan MEMBINA PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM