` DI JALANPUN PERLU ETIKA : Imam Bukhari

DI JALANPUN PERLU ETIKA

Wed 1 رجب 1438AH 29-3-2017AD Adab dan Akhlaq

Agama ini memang agama yang sempurna. Segala lini kehidupan tak ada yang ditinggalkan. Semuanya ada aturan yang pasti mengandung maslahat dan kebaikan. Dan  bila itu semua dipraktikkan dalam ranah realita manusia, sungguh indah dan rapi jalannya hidup ini. Sebab, itu semua bukanlah dalam rangka untuk menyusahkan dan menyudutkan manusia. Bahkan sebaliknya, akan tercipta suasana yang sejuk, santun, dan aman.

Lebih dari itu, akan terbentuk dalam diri umat ini para hamba yang benar-benar mendapat kasih dari Alloh yang Maha Kasih. Seperti yang tergambar dalam firman Alloh yang artinya:

 

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqôn: 63)

Artinya mereka bukanlah orang yang beringas, congkak, tidak pula berbuat kerusakan. Karena mereka berlaku santun. Bahkan dalam berjalanpun mereka berjalan dengan santun, tawadhu’, dan tenang. Dan bila disapa dengan hal yang tidak menyenangkan, mereka tidak membalas dengan perkataan yang kotor. Tapi mereka menjawab dengan ucapan yang membuat mereka selamat dari dosa. Mereka tidak merespon keburukan dengan keburukan juga, tapi membalas dengan kebaikan.

Maka akan tercipta suasana yang sangat kondusif, di mana ketentraman dan sikap tawadhu’ begitu dihayati kaum muslimin.

Namun bila prinsip-prinsip seperti ini sudah tak digubris, maka akan banyak terjadi kerusakan, terutama di bidang moral dan pekerti umat ini.

 

Hindari Duduk-Duduk di Jalan

Ada satu hal yang sangat tidak mencerminkan sosok hamba Alloh Yang Maha Penyayang. Satu pemandangan yang sudah dianggap lumrah, apalagi pada era sekarang ini. Yaitu fenomena duduk-duduk di jalan yang sudah menjadi rutinitas harian. Tak pandang usia; tua, muda, anak-anak, bahkan kaum wanita, sudah menjadi pemandangan umum, mereka berkumpul di tepi-tepi jalan, kongkow-kongkow kalau menurut bahasa anak muda. Yang lebih parah lagi bercampur aduknya kaum lelaki dan kaum wanita.

Padahal kebiasaan- kebiasaan ini sangat rentan menimbulkan berbagai dampak negatif. Berbagai macam bentuk maksiat dan tindak kejahatan, baik yang ringan sampai yang berat bisa saja berawal dari kebiasaan ini. Di antara yang paling menonjol adalah bahwa hal itu akan banyak menimbulkan fitnah (kerusakan), terutama fitnah yang ditimbulkan wanita. Karena fungsi jalan adalah untuk lalu lalang, maka tak bisa dihindari kalau orang yang duduk-duduk di tepi jalan akan memandang mereka, baik sengaja maupun tidak. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak mengindahkan ajaran-ajaran syariat. Dan ini akan lebih merusak hati mereka yang duduk-duduk di jalan. Karena biasanya pemandangan seperti ini menjadi salah satu faktor pendorong mereka untuk melakukan kebiasaan ini. Mereka akan ketagihan melakukannya, sehingga mereka pun menjadi ketagihan untuk melakukan kemaksiatan ini.

Padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan sahabat untuk memalingkan pandangan kala tak sengaja melihat hal yang tak boleh dilihat. Begitu pula Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpesan pada Ali Bin Abi Tholib:

يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

Wahai Ali, jangan engkau turutkan satu pandangan dengan pandangan lainnya. Karena bagimu pandangan yang pertama (tidak disengaja), namun tidak dengan pandangan yang selanjutnya.” (HR. Abu Daud)

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Wahai kaum yang menyatakan Islam dengan lidahnya, namun iman belum merasuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan memperturutkan aurat mereka (hal yang tak patut dilihat, atau aib dan cacat). Karena siapa yang memperturutkan aurat sesama muslim, maka Alloh akan memperturutkan auratnya (aibnya). Dan barangsiapa yang Alloh memperturutkan aibnya,  maka Alloh akan mempermalukannya, meskipun di tengah kediamannya sendiri.” (HR. Turmudzi) .”

Namun realita yang ada menunjukkan, mata justru dibuat liar untuk memburu berbagai pemandangan yang diharamkan. Bahkan gejala ini semakin merebak kala mereka tengah menjalani puasa di bulan Romadhon. Dan anehnya, gejala ini seperti menjadi satu hal yang tak boleh ditinggalkan. Padahal banyak hal yang akan mengganggu pandangan mereka, yang tentunya akan mempengaruhi nilai kualitas puasa. Bahkan bisa jadi bukan lagi pahala yang mereka dapatkan, tapi justru dosa dan hati yang semakin jauh dari Alloh. Karena mereka sudah dikuasai oleh nafsu dan syahwat.

 

Nasihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan umatnya dari kebiasaan seperti ini. Mengingat dampak  buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan ini seperti yang disinggung di atas.

Mari kita renungkan hadits dari beliau n yang menghimpun etika-etika luhur yang mencerminkan pribadi setiap muslim sejati. Imam Bukhori dan Muslim serta lainnya meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar menuju para sahabatnya. Beliau bersabda:

Hindari oleh kalian duduk-duduk di jalanan!” Para sahabat berkata: “Wahai Rosululloh, kami tidak bisa meninggalkan forum duduk-duduk kami, karena kami bisa berbincang-bincang di sana.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ

Bila kalian tetap enggan kecuali tetap duduk di jalan, maka berikan kepada jalan akan haknya!

Sahabat bertanya: “Apakah hak jalan itu wahai Rosululloh? Beliau n menjawab:

غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Menundukkan pandangan, menghentikan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar.” (muttafaq `alaih)

Pada riwayat yang lain “berucap yang bagus.” Dalam riwayat lain: “memberi petunjuk pada ibnu sabil (orang safar) dan mendoakan orang bersin bila ia megucap hamdalah.” Dalam riwayat Abu Daud dengan tambahan: “engkau menolong orang yang kesusahan dan membantu orang yang dizalimi serta tebarkanlah salam.” Sedangkan Bazzar menambahkan: “Bantulah muatan barang.” Dan Thobari menambahkan: “banyak ingat kepada Alloh.” Ini semua merupakan 14 etika di jalan, seandainya orang-orang mempraktikkannya dalam kehidupan nyata, pastilah tidak ditemukan perilaku sembrono dan perbuatan yang ngawur. Sehingga akan tercipta suasana kondusif, aman, dan jauh dari nuansa maksiat.

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani merangkum adab di jalan dalam rangkaian syair berikut:

Aku himpun berbagai etika bagi orang yang hendak duduk di jalan

Etika yang disarikan dari ucapan manusia yang paling baik

Tebarkan salam, perbaguslah ucapan

Doakan orang yang bersin, jawablah salam dengan baik

Barang bawaan orang bantulah dan juga bantu orang yang terzalimi

Tolonglah orang yang kesusahan, beri petunjuk jalan, dan tuntunlah orang yang kebingungan

Perintahkan yang makruf, cegahlah yang munkar

Hentikan gangguan, tundukkan mata, dan perbanyak mengingat Penguasa kita

Apa yang dihimpun Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas dirangkum berdasarkan riwayat yang ada dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam .

 

Renungi Titah Nabi

Kita tengokkan pandangan kita sejenak di jalanan di sekitar kita. Seusai jam sekolah selesai, atau waktu-waktu lainnya, para pelajar, anak-anak muda, dan lainnya terlihat bergerombol di sana-sini. Bahkan tak jarang bercampur-baur antara lelaki dan perempuan. Seolah sudah tak ada lagi rasa malu dalam diri mereka. Tentu saja, tak akan  kita temui adab-adab yang diperintahkan dalam hadits di atas. Mereka tidak mempraktikkan kewajiban-kewajiban kala mereka di jalan. Bahkan mereka sengaja mencari-cari aib dan juga tak mau menghargai harga diri orang-orang yang  lalu lalang di hadapan mereka. Mereka lepaskan pandangan mata mereka melihat apapun yang mereka mau, terutama melihat-lihat lawan jenis. Padahal mereka diperintahkan menundukkan pandangan. Atau mereka mengganggu kenyamanan umum, padahal mereka diperintahkan untuk menahan diri agar tidak mengganggu.

Hadits ini juga sebagai peringatan kepada kaum wanita agar tidak banyak keluar rumah tanpa ada keperluan. Karena berbagai madharat yang ditimbulkannya. Banyak mata jalang yang selalu mengintainya di jalanan.

Forum-forum seperti itu juga biasanya sama sekali tak mengandung unsur dzikir kepada Alloh. Dan itu akan membuat orang-orang itu menyesal pada hari kiamat. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةً

Barangsiapa yang duduk dalam satu forum di mana ia tidak menyebut Alloh di sana, maka itu akan menjadi kerugian dan penyesalan di hari kiamat.” (HR. Abu Daud)

Begitu pula forum-forum ini memuat hal-hal lain yang diharamkan, seperti dusta, menggunjing, adu domba, kata-kata keji dan cabul, larut dalam permainan sia-sia, dan berbagai kemungkaran lainnya. Perhatikanlah dampak-dampak buruknya. Hati mereka menjadi tak merespon nasihat, menganggap maksiat sebagai hal biasa, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Dan yang pasti mereka telah membunuh waktu dan umur mereka. Seolah waktu sudah tak ada nilainya lagi, sehingga mereka harus menghamburkan waktunya pada hal-hal yang tiada guna.

 

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dua kaki hamba tak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang umurnya untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia amalkan darinya; tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia nafkahkan; dan tentang badannya untuk apa ia sia-siakan.” (HR. Turmudzi)

Dan ini semua tidak akan menutup kemungkinan akan menjurus pada berbagai tindak kejahatan, dari yang paling ringan sampai yang paling parah. Wal ‘iyâdzu billâh.

Maka bisa diketahui bahwa seorang muslim memikul tanggung jawab untuk selalu menjaga hak-hak saudaranya. Ia tidak seharusnya duduk-duduk di jalan, karena hal itu akan banyak mengundang kerusakan. Banyak kerusakan yang akan ditimbulkan, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap orang lain. Baik itu kerugian terhadap diri sendiri, seperti membuang-buang waktu, dan bisa menyeretnya pada dosa, ataupun terkait dengan kenyamanan orang lain, seperti mengganggu orang, atau sampai pada taraf mengganggu kehormatan orang lain.

Kalau Nabi  memperbolehkan sahabat untuk duduk di jalan, karena memang mereka bisa menjaga hak-hak di jalan. Dan perbincangan mereka adalah penuh dengan manfaat. Lalu kalau kita bandingkan dengan keadaan mereka yang duduk dan nongkrong di jalanan, apakah mereka bisa menjaga hak-hak yang harus mereka jaga kala berada di jalan?! Masing-masing individu pastinya lebih tahu jawabannya.

 

Tim Redaksi Majalah Lentera Qolbu


Posting terkait dengan DI JALANPUN PERLU ETIKA