` Hukum Orang yang Bangga dengan Kebaikan Dirinya dan Benci atas Kebaikkan Orang Lain : Imam Bukhari

Hukum Orang yang Bangga dengan Kebaikan Dirinya dan Benci atas Kebaikkan Orang Lain

Wed 1 رجب 1438AH 29-3-2017AD Adab dan Akhlaq

Pertanyaan:

Bagaimana hukum syar’i seseorang yang shalat dan berpuasa namun ia hanya menyukai kebaikan bagi dirinya sendiri dan membenci kebaikan (dilakukan) orang lain karena ia memiliki sedikit hasad dalam dirinya.

Bagaimana caranya bermuamalah dengan orang semacam ini dan ia tetangga atau teman kerja?

Jawaban :

Syaikh –rahimahullah– menjawab:

Anda bermuamalah dengannya sebagaimana bermuamalah dengan yang lain, namun Anda harus menasehatinya dan menjelaskan bahwa hasad termasuk dosa besar dan akhlaq orang Yahudi.

Allah mengatakan:

أَمْ يَحْسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِ

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (An-Nisa 54)

وَدَّ كَثِيرٞ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّۖ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran (Al-Baqarah 109).

 

Hasad adalah akhlaq orang Yahudi dan termasuk dosa besar. Hasad tidak akan mengubah sesuatu pun dari takdir Allah –Azza wa Jalla-, bahkan hasad hanya akan merugikan pelakunya dan mengangkat derajat obyek hasad. Apalagi jika pelaku hasad melampaui batas karena akan membalas pelaku kezaliman.

(Keburukan hasad lain) adalah ia semacam bentuk pengingkaran qadha, qadar dan hikmah Allah –Azza wa Jalla-.

Hasad juga menunjukkan kelemahan iman pelakunya, karena jika Mukmin sejati maka akan mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Jika seseorang ingin mengobati penyakit buruk ini, maka hendaklah ia berpikir sejenak dan memahami karunia Allah yang diberikan-Nya pada yang dikehendaki-Nya. Allah sebagai pemberi nikmat ini juga mampu memberikan karunia yang sama pada pelaku hasad ini.

Allah mengatakan:

 

وَلَا تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكْتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَۚ وَسْ‍َٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓۚ

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. (An-Nisa 32).

Maka jika ia berusaha menahan dirinya (dari hasad) dengan kejujuran dan keikhlasan dengan berpikir dan merenung (akan keburukan hasad) sungguh Allah –Azza wa Jalla– akan menolongnya dan menyelamatkannya dari api hasad.

 

Fatawa Nur ala Darb 6850


Posting terkait dengan Hukum Orang yang Bangga dengan Kebaikan Dirinya dan Benci atas Kebaikkan Orang Lain