` Dia Adalah Anugerah, Dia Adalah Amanah : Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta

Dia Adalah Anugerah, Dia Adalah Amanah

Sat 25 صفر 1440AH 3-11-2018AD Artikel dan Kajian, Hadits Tags: ,

Anugerah agung yang dinanti

Anak merupakan anugrah agung dan indah yang Alloh karuniakan kepada pasangan suami istri. Bagaimana tidak, Alloh telah menyatakannya dalam beberapa ayatNya, diantaranya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ  أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Asy-Syura: 49-50)

 

Bukti lain bahwa anak merupakan anugerah, pasangan suami istri akan selalu mendambakan kehadirannya, pikiran menjadi kalut ketika yang ditunggu tidak kunjung datang, dan rela mengerahkan segala usaha dan doa demi anugerah ini.

Anugerah ini akan menjadi sangat agung ketika berupa anak saleh. Ia akan menjadi pelita hidup orang tua dan penyejuk hati mereka. Tidak hanya di dunia, bahkan anugerah ini akan berbuah manis sepeninggalan mereka. Nabi bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka amalannya akan terputus darinya kecuali tiga: shodaqoh yang mengalir, ilmu yang dimanfaatkan dan anak sholeh yang mendoakannnya kebaikan” (HR. Muslim)

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

“Sesungguhnya seorang laki-laki diangkat derajatnya disurga, ia berkata: ‘Dari manakah aku bisa dapat ini?’ lalu dikatakan kepadanya: ‘Itu didapat disebabkan anakmu memintakan ampun untukmu’. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Amanah yang harus dijaga

Namun di samping anugerah, Allah pula menjadikan anak sebagai amanah di pundak orang tua, di sana ada hak dan kewajiban yang wajib ditunaikannya. Allah menjadikan anak sebagai ujian bagi mereka, apabila mereka mampu menunaikannya sebagaimana yang Allah perintahkan maka pahala besar di sisi Alloh menanti mereka, dan jika mereka melalaikannya maka sungguh mereka telah menjerumuskan diri untuk menerima hukuman yang setimpal dengan kelalain mereka.

Bagi seorang yang beriman, sebuah amanah sudah menjadi keharusan baginya untuk menunaikan dan menjaganya dengan sebaiknya. Firman Allah Azza wa Jalla:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (Al-Mu’minun: 8)

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Al-Anfal: 27)

 

Anak termasuk bilangan amanah yang wajib ditunaikan oleh orang tua, terlebih sang ayah. Ia harus mengarahkan, mendidik dan mendisiplinkan mereka. Alloh berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Ali bin Abi Thalib berkata dalam menjelaskan ayat di atas: “ajarilah dan disiplinkanlah mereka (anak-anak)”

Kewajiban ini dipertegas pula oleh hadits sahih dari Nabi :

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin negara adalah pemimpin, ia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin baggi keluarganya, ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita pemimpin terhadap rumah suaminya ,ia akan ditanya tentangnya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, ia akan ditanya tentangnya”. (Muttafaq ‘Alaihi).

 

Sebuah pertanggung jawaban di hadapanNya

Sebagaimana Alloh mewajibkan anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada orangtuanya seperti dalam firmanNya:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya”. (Al-Ankabut: 8)

 

Alloh pula mewasiatkan orang tua untuk mendidik dan mendisiplinkan anaknya. FirmanNya:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ

“Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu”. (An-Nisa: 11)

Wasiat ini menjadi amanah bagi orang tua. Alloh akan meminta pertanggung jawaban mereka terhadap amanah ini. Nabi bersabda:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita pemimpin terhadap rumah suaminya ,ia akan ditanya tentangnya. (Muttafaq ‘Alaihi).

Hadits ini mengingatkan orang tua bahwa kelak pada hari kiamat tatkala hamba berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia akan meminta petanggung jawaban amanah ini. Bahkan sebagian ulama’ menyatakan bahwa pada hari kiamat Allah akan menanyakan pertanggung jawaban orang tua terhadap anaknya sebelum menanyakan pertanggungjawaban anak terhadap orang tuanya. Dan sungguh, sebagaimana seorang ayah mempunyai hak atas anaknya, ia pun mempunyai kewajiban terhadap anaknya.

 

Sentuhan indah berbuah manis

Sentuhan indah kedua orang tua mempunyai pengaruh besar terhadap aqidah dan agama anak, dan terlebih lagi akhlak dan perangai mereka. Hal ini sesuai sabda Nabi yang mulia :

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Setiap anak dilahirkan diatas fithrah. Kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang terlahir dari induknya. Apakah kalian melihat padanya ada yang cacat karena terpotong? (HR. Bukhari)

Permisalan yang Nabi gambarkan dalam hadits di atas begitu dalam dan nyata. Karena biasanya yang terjadi, hewan ternak menghasilkan hewan ternak yang utuh tanpa cacat, tidak ada kebuntungan entah di tangannya, telinganya maupun kakinya. Kalaupun terjadi, biasanya disebabkan oleh sang pemilik atau penggembalanya, baik itu karena teledor atau disebabkan oleh tangannya langsung. Demikian pula seorang anak, dia dilahirkan di atas fitrah. Apabila dia belajar berdusta, curang, merusak, menyimpang dan bentuk kemungkaran yang lainnya, maka ini berasal dari faktor luar fitrah. Entah itu disebabkan pendidikan yang buruk, lalai dalam mendidik, atau faktor luar seperti teman buruk.

Ibnul Qoyyim berkata:

“Barang siapa lalai untuk mengajari anaknya dengan yang bermanfaat baginya dan mencampakkan mereka sia-sia, sungguh orang ini begitu buruk perbuatannya. Sebab, kebanyakan anak rusaknya datang disebabkan sang ayah tidak mempedulikan mereka dan tidak mengajari mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Ayah telah menyia-nyiakan anaknya di waktu kecil, sang anak tidak mengambil manfaat dirinya dan tidak pula memberikan manfaat kepada sang ayah di waktu tuanya. Ada sebagian mencela anaknya karena telah durhaka kepadanya, anak itu berkata: wahai ayahku, sebagaimana engkau mendurhakaiku di waktu kecilku, maka aku mendurhakaimu di waktu tuamu. Sebagaimana engkau menyia-nyiakanku di waktu kecilku, maka aku menyiakanmu di waktu tuamu”. (Tuhfah al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, hlm. 229).

Dikarenakan peran orang tua begitu besar dalam membentuk agama dan akhlaq seorang anak, dan karena ia adalah amanah yang akan diminta pertanggung jawabannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sudah selayaknya dan menjadi keharusan bagi orang tua untuk memperhatikan pendidikan anak. Yaitu pendidikan secara Islami yang diridhai oleh Allah dan sesuai petunjuk Nabi-Nya ..

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing dan memberi kekuatan kepada kaum muslimin untuk menunaikan amanah pendidikan ini dengan sebaiknya. Amiin.

Disusun oleh: Muhammad Yunus, Lc.( Staf pengajar Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta.)


Posting terkait dengan Dia Adalah Anugerah, Dia Adalah Amanah







Hubungi bagian Sekretariat Pondok

Hubungi Kami