` ANDAIKAN MEREKA BERSABAR : Imam Bukhari

ANDAIKAN MEREKA BERSABAR

Sat 19 جمادى الآخرة 1438AH 18-3-2017AD Fikih, Kajian Umum, Siroh Tags: , ,

Peristiwa – peristiwa yang menjadi pelajaran berikut ini terjadi di negeri Andalusia (spanyol), ‎tepatnya sejarah tersebut terjadi pada pemerintahan bani Umayyah ketiga di Maroko setelah ‎redupnya kejayaan mereka di belahan timur, dibawah pemerintahan Al-Hakam bin Hisyam Ar ‎Rabadhi pada tahun 202 H‏.‏
Berkaitan dengan berita yang menjadi pelajaran ini, saat itu sungguh banyak orang – orang ‎yang menisbahkan diri mereka terhadap ilmu (bergelar ulama), bahkan di daerah Cordoba sendiri ‎terdapat kurang lebih sekitar 4000 orang yang mengenakan kostum dan beratribut ulama, kemudian ‎saat itu pula terjadilah penyimpangan pada kehidupan Alhakam, dan nampak darinya kefasikan dan ‎kejahatan.‎
Dahulu hukum syar’i yang berlaku yang merupakan (bentuk aplikasi) dari nash-nash syariat ‎adalah hendaknya para ulama berusaha sekuat tenaga menasehati seta memberi peringatan terhadap ‎para penguasa secara tersembunyi, sembari terus menyibukkan diri dengan mengajarkan kepada ‎masyarakat (hal-hal yang berkaitan) dengan agama mereka, beramar makruf dan nahi mungkar sesuai ‎dengan kemampuan mereka, serta diam (dan menjauhkan diri) dari menyebut aib penguasa kepada ‎para khalayak ramai, maupun kalangan tertentu. (hal ini bertujuan) sebagai bentuk menjaga maslahat ‎kesatuan, pemerintahan yang damai, terjaganya darah (kaum muslimin) dan terjauhkannya dari sebab ‎sebab fitnah. Sungguh amat disayangkan (saat itu) yang terjadi tidaklah demikian.‎
Semangat beragama yang melampaui batas, rasa marah atas nama kesucian Allah ‎ﷻ‎ tanpa ‎dilandasi dengan hukum Allah ‎ﷻ‎ yang maha bijaksana yang telah mengaturnya melalui lisan nabinya ‎saat Rasulullah ‎صلى الله عليه وسلم‎ bersabda : ‎
‎“Ingatlah, siapa yang dipimpin oleh suatu pemerintah, lalu dia melihat pemerintah tersebut ‎melakukan suatu tindak kemaksiatan kepada Allah ‎ﷻ‎ maka hendaknya dia membenci tindak ‎maksiatnya kepada Allah ‎ﷻ‎ tersebut, dan jangan sampai dia keluar dari prinsip ketaatan kepada ‎pemerintah.”‎
Dan saat nabi bersabda :‎
‎“Barang siapa yang melihat sesuatu (ucapan/perbuatan) yang tidak menyenangkan darinya, ‎maka hendaklah ia bersabar, sebab barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (Imam) walau satu ‎jengkal, kemudian dia mati maka matinya dalam keadaan jahiliyah.”‎
Tetapi disaat mereka melihat yang mereka benci (dari para penguasa) dan mereka tidak ‎bersabar, bahkan mereka berusaha melepaskan ketaatan, berkongsi untuk melakukan kudeta, ‎membentuk satuan tentara untuk memerangi (pemerintahan), Allah ‎ﷻ‎ taqdirkan sampainya khabar ‎tersebut di telinga sang penguasa, maka ditangkaplah sebagian dari mereka, dan terbunuhlah 77 ‎orang dari kalangan ulama, kepala mereka dipancung dan tubuh mereka disalib.‎
Rakyatpun bangkit dan bersiap melakukan pemberontakan, tetapi hal tersebut tak merubah ‎apapun kecuali keburukan yang akan menyulut api fitnah, dan api keburukan tersebut akhirnya ‎menyala berkobar yaitu saat terjadi sebuah perselisihan antara salah seorang pegawai pemerintahan ‎dengan salah seorang penduduk yang berakhir dengan terbunuhnya sang pegawai, hingga akhirnya ‎terbagilah mereka dalam dua kelompok yang saling memerangi. ‎
Saat sang penguasa Andalus mengetahui hal tersebut, Ia memerintahkan untuk mengumpukan ‎bala tentara, kedua kelompokpun bertemu, dan (pasukan pemerintah) berhasil mengalahkan mereka. ‎Dalam keadaan lari pasukan pemerintah terus memburu mereka hingga menyebabkan jatuhnya ‎korban jiwa mencapai 40 ribu orang. ‎
Saat itulah, mereka kembali menampakkan ketaatan, mereka kembali tunduk dan memohon ‎ampunan. Sang Amirpun mengampuni mereka dengan syarat mereka keluar dari Cordoba, dan ‎merekapun menyanggupinya. Setelah itu rumah-rumah, masjid-masjid, dan apa yang mereka ‎tinggalkan diluluh lantakkan. Wala haula wala quwwata illa billah.‎
Ujian itu tak berakhir sampai di sini, babak lain dari perkara yang memilukan ini terjadi di kota ‎Toledo, yaitu disaat beberapa ribu penduduk rabadh turun setelah mereka digusur dari pemukiman ‎tersebut, saat itu mereka tidak bersikap sabar darinya, mereka tidak bersabar atas kedzaliman para ‎penguasa, bahkan mereka menentang hingga (para penguasa) itu mengeluarkan mereka, saat itu sang ‎Amir Al Hakam mengangkat seseorang wali yang dikenal licik dan bengis bernama Amrus, lantas ‎Iapun bermakar berakhir dengan terbunuhnya lima ribu orang dari pembesar kaum mereka.‎
Inilah peristiwa diantara peristiwa – peristiwa pemberontakan terhadap para penguasa yang ‎jahat. Terganggunya keamanan, tumpahnya darah, berselisihnya hati, dihancurkannya hunian, dan ‎diusirnya ribuan orang, dan terbunuhnya orang-orang yang baik dalam jumlah banyak, dan ‎tinggallah sang penguasa duduk di atas singgasana kekuasaannya hingga ajal yang telah ditentukan, ‎yaitu di waktu yang tak jauh dari zaman fitnah terjadi, bahkan antara kematiannya dengan zaman ‎tersebut hanya berselang 4 tahun saja. (Harapan) itu sungguh dekat, andaikan para ulama dan para ‎pengikut mereka bersabar, hingga seseorang penguasa yang adil maupun yang jahat itu meninggal ‎atau berhenti maka hal itu sungguh lebih baik bagi mereka dan bagi dirinya (penguasa), bagi Islam ‎dan kaum muslimin, akan tetapi hal itu telah menjadi kehendak bagi Allah ‎ﷻ‎ ‎ﷻ‎.‎
Sungguh diriku bertanya – tanya bagaimana mungkin mereka tidak mengambil pelajaran dari ‎apa yang telah terjadi sebelum mereka dari keburukan, padahal jarak waktu keduanya tidaklah lama, ‎yaitu saat orang – orang shalih keluar memberontak terhadap para penguasa yang mengakibatkan ‎terjadinya keburukan dan kerusakan berlipat dari apa yang mereka murkai. (para penguasa itu ‎berbuat kemungkaran lebih besar setelah terjadi pemberontakan-pen)‎
Bagaimana bisa mereka tidak mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi pada para Qari di ‎masa Al Hajjaj bin Yusuf, saat mereka bereaksi terhadap kedzaliman dan banyaknya pertumpahan ‎darah yang dilkukan olehnya, mereka tidak bersabar, tetapi mengambil jalan pemberontakan, dan ‎yang terjadi adalah penderitaan yang amat menyakitkan, yaitu tumpahnya darah kaum muslimin ‎yang aka da yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah ‎ﷻ‎ ‎ﷻ‎. Dan seandainya umat Islam tidak ‎dirugikan dalam fitnah ini kecuali terbunuhnya Sa’ad bin jubair, maka cukuplah hal tersebut sebagai ‎sebuah kerugian (sebagaimana dikatakan oleh maimun bin mahran – dan tidaklah di atas bumi ini ‎satu orangpun kecuali ia membutuhkan ilmunya). Wallahul musta’an.‎
Sungguh perilaku menyianyiakan perintah Allah ‎ﷻ‎ ‎صلى الله عليه وسلم‎ agar rakyat bersabar dari apa yang ‎mereka dapati sesuatu yang dibenci dari para penguasa dapat menyebabkan bencana yang besar ‎terhadap kaum muslimin dalam sejarah panjang mereka. Peristiwa Ar Rabadh merupakan salah satu ‎bencana dan peristiwa yang memilukan, dan bersama dengan munculnya sialnya peberontakan ‎terhadap para pemimpin tetapi syaitan masih saja menghiasi aksi para penggiat agama yang dapat ‎berpengaruh terhadap fitnah dan kekacauan dengan mengatas namakan ghirah terhadap kesucian ‎Allah ‎ﷻ‎ ‎ﷻ‎ dan syariatnya sebagaimana yang mereka yakini.‎
Lantas dimanakah sikap berserah diri dan tunduk yang ditunjukkan oleh pelakunya terhadap ‎hokum Allah ‎ﷻ‎ dan rasulNya?‎
Dimanakah akal sehat yang senantiasa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi pada orang-‎orang di masa sebelumnya? Maka janganlah engkau menuntut jalan kebinasaan yang telah mereka ‎tempuh hingga mereka tidak menjadi pelajaran serta ibrah bagi orang setelah mereka. (seandainya ‎mereka mengikuti jalan kebinasaan orang-orang sebelum mereka, maka mereka akan menjadi ‎pelajaran bagi orang-orang setelah mereka)‎
Lantas, siapakah yang mendapatkan keuntungan apabila telah berdiri di negeri muslim sebuah ‎pasar kekacauan, kalimat mereka saling berselisih, hati mereka saling kontra, darah mereka tumpa di ‎tangan mereka sendiri? Siapakah yang diuntungkan jika kaum muslimin sibuk dengan fitnah ‎daripada menyibukkan diri dengan kedamaian, dan dari dakwah kepada (agama) Allah ‎ﷻ‎, dan dari ‎jihad di jalan Allah, dan menempuh sebab – sebab kemuliaan, kedudukan yang tinggi nan luhur.‎

Sesungguhnya yang mengambil keuntungan adalah para musuh Allah ‎ﷻ‎ dari orang-orang kafir ‎dan kaum musyrikin sebagaimana yang terjadi di bumi Andalusia yang menjadi saksi fitnah ‎Arrabadh, dan itu setelah sekian abad berlalu, pada hari dimana perkara buruk menimpa kaum ‎muslimin lantas musuh mereka mengambil kesempatan itu, mengalahkan mereka, membunuh ‎mereka dan mengusir yang tersisa.‎
Dan tidaklah Rabbmu berbuat dzalim terhadap hambanya
‎———–‎
‎(Diterjemahkan secara bebas dari tulisan syaikh Yahya Al Haddadi Hafidzahullah pada 19/2/1438 H
Pen : Muhammad Husen Arrafat BA‎
Pengajar program mutawasithah ‎


Posting terkait dengan ANDAIKAN MEREKA BERSABAR