` BILA BENCANA MELANDA : Imam Bukhari

BILA BENCANA MELANDA

Wed 1 رجب 1438AH 29-3-2017AD Kajian Umum

Allah mengutus sekalian rasulNya di muka bumi ini sejak diutusnya rasul pertama sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam , hanya dengan satu tujuan. Yaitu supaya menyeru dan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah semata, dan meninggalkan penghambaan kepada selainNya. Allah berfirman :

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (QS An Nahl:36).

 

Namun apa yang terjadi? Ternyata umat terdahulu justru mendustakan dan menolak misi para rasul. Tidak jarang para rasul mendapat sambutan berupa hinaan, celaan, penganiayaan bahkan pembunuhan. Akibat tindakan bodoh ini, umat-umat tersebut diterpa kehancuran dan kebinasaan. Kaum Nabi Nuh  dibinasakan dengan datangnya banjir. Kaum Nabi Hud, yaitu kaum ‘Aad, diluluhlantakkan oleh api dan angin topan. Sedangkan kaum Tsamud, umat Nabi Shalih bergelimpangan mati hanya dengan sekali teriakan keras. Begitu pula kaum Saba’, Madyan, ‘Iram, Fir’aun dan lainnya, telah dihancurleburkan oleh Allah. Inilah akibat mendustakan dan antipati mereka terhadap kebenaran risalah para rasul yang mulia, penghinaan dan pembunuhan terhadap para rasul yang hadir di tengah-tengah mereka. Sifat takabbur (sombong) di dada mereka, laksana batu karang yang sulit tertembus oleh cahaya kebenaran. Orang-orang seperti mereka memang tidak layak untuk menikmati kesejukan surga. Wal iyyadzu billah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ … الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk syurga, orang yang di dalam hatinya terdapat al kibr (sombong) meski hanya sebiji sawi…… Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. (HR Muslim).

 

Tidak mustahil, kehancuran dan kebinasaan yang menimpa umat-umat terdahulu akan menimpa kita pula. Tidak pandang bulu, adzab Allah akan menimpa siapapun yang menentang.

Bagaimanakah dengan ummat sekarang ini? Kita melihat, seolah cahaya Islam kian memudar. Banyak yang kurang bergairah untuk memperdalam agama, kehilangan kepercayaan dengan agamanya. Dan sebaliknya sangat bangga dengan budaya Barat yang hakikatnya melahirkan dekadensi moral. Parahnya, terjadi juga penolakan dan penghinaan secara terang-terangan terhadap kebenaran dan para pengusungnya.

Betapa banyak para pemberi nasihat dan pembawa kebenaran datang membacakan al Qur’an, hadits-hadits Nabi. Tetapi, betapa sedikit yang peduli untuk menerima dan melaksanakannya.

Tidak selayaknya seorang muslim bersikap seperti kaum kufar, menampik kebenaran karena bertentangan dengan keyakinannya yang keliru. Atau lantaran berseberangan dengan tradisi yang telah mengakar. Begitulah problem yang sedang kita hadapi. Mayoritas kaum muslimin dewasa ini, telah benar-benar teracuni oleh ganasnya penyakit fanatisme buta terhadap adat istiadat. Hingga akhirnya, merasa lebih cocok dengan mengamalkan budaya daerah ataupun kebiasaan di masyarakat, daripada mengaplikasikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Mentalitas seperti ini sangat tercela dalam al Qur’an. Allah berfirman:

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَآأَنزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لاَيَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَيَهْتَدُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah mengikuti apa yang  diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.”  Mereka menjawab: ”Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapatkan petunjuk? (QS Al Maidah:104).

 

Itulah sifat orang-orang kafir yang harus kita hindari. Ingatlah, bahwa kebenaran itu hanya berdasarkan dalil-dalil al Qur’an, Hadits Nabi. Oleh karena itu, kita harus kembali kepada seruan al Qur’an, mengikuti hadits-hadits Nabi, merujuk kepada nasihat ulama.

Fanatisme buta merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Karena itu, jangan sampai menjangkiti setiap orang. Semestinya kita sadar, tidak ada pribadi yang ma’shum selain Nabi atau Rasul. Seluruh manusia tidak ada yang bebas dari kesalahan dan dosa. Kita boleh memegangi pendapat orang lain erat-erat, tetapi dengan syarat jika pendapat tersebut benar, bersandar pada dalil yang akurat. Dan kita harus melepaskan suatu  pendapat, bila ternyata salah dan bertentangan dengan syari’at.

Imam Malik menyatakan: “Setiap orang bisa diambil perkataannya (jika benar) dan bisa pula ditinggalkan (jika salah). Kecuali  pemilik kubur ini (beliau menunjuk kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam).”

Oleh karena itu, perkataan yang wajib kita ambil dan kita patuhi seluruhnya, hanyalah perkataan Rasulullah saja. Sebab semua perkataan Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam , pasti mengandung unsur kebenaran. Adapun ucapan orang, harus kita timbang dahulu dengan dalil-dalil yang ada.

Seandainya kita menengok media massa, baik cetak maupun elektronik, maka kita menyaksikan adanya malapetaka dan bencana yang silih berganti. Ada krisis ekonomi dan sosial, pertikaian dan peperangan antar wilayah, tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin topan, gunung berapi, kecelakaan darat, laut maupun udara, bermacam penyakit yang mematikan, pencemaran lingkungan, kemarau panjang, dan lain-lainnya. Boleh saja kita mengatakan bahwa bencana ini sebabnya adalah ini, musibah itu sebabnya itu, dan seterusnya, dan seterusnya Tetapi, kita sebagai Muslim yang bersaksi kepada Allah dan Rasul-Nya, marilah melihatnya dengan kacamata ayat di bawah ini:

 

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (tidak taat dan tidak mau bersyukur). Dan sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. (QS Al Anfal : 53).

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). ( QS Ar Rum : 41).

 

Ayat-ayat mulia di atas memberikan pelajaran kepada diri kita, bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Allah tidak akan mencabut suatu kenikmatan, kemudian menurunkan bala’ dan bencana kepada suatu kaum, kecuali karena kemaksiatan mereka kepada Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya, melanggar perintah-perintahNya, merebaknya kesyirikan dan jauhnya mereka dari pemurnian tauhid kepada Allah.

Fakta sejarah Islam telah membuktikan. Ingatlah dalam perang Uhud. Ketika sebagian para pemanah yang ditugaskan Rasulullah n yang berada di atas gunung tidak mentaati perintah Rasulullah n , maka mereka menuai kekalahan dari kaum musyrikin.

Pada perang Hunain, kemenangan yang sudah dalam genggaman karena banyaknya jumlah pasukan Muslimin, namun yang terjadi, justru sebaliknya! Yaitu kekalahan, karena timbulnya sifat sombong. Kaum Muslimin berasumsi, dengan jumlah pasukan yang besar, pasti bisa mengalahkan musuh, tetapi ternyata semua itu tiada berpengaruh positif.

Dengan silih bergantinya bencana dan musibah yang datang melanda, maka kita harus segera menyadari supaya manusia mengoreksi kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan dan bersegera kembali ke jalan yang benar.

Akhirnya, marilah kita tingkatkan taqwa dan ketaatan kepada Allah. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selainNya, mengikis kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah kita lakukan dan mencoba menerapkan syari’at pada diri kita, keluarga dan masyarakat secara umum. Itulah satu-satunya jalan supaya kita terhindar dari musibah yang sering melanda. Semoga Allah  mempermudah langkah-langkah kita ini dan menghilangkan berbagai macam adzab atas diri kita.

 

 

Diadaptasi dari khutbah jum’at Majalah As Sunnah Edisi ke 10 tahun ke VIII


Posting terkait dengan BILA BENCANA MELANDA