` Kepada Siapa Kita Bertanya tentang Agama Islam? : Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta

Kepada Siapa Kita Bertanya tentang Agama Islam?


Di era globalisasi ini, yang diberengi dengan kemudahan dalam informasi dan telekomunikasi, serta banyaknya forum tanya-jawab online tentang agama dengan berbagai macam permasalannya. Tidak sedikit diantara pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah permasalahan yang besar, yang seharusnya tidak dijawab kecuali oleh orang-orang (ulama) yang memiliki kafa’ah keilmuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah yang mumpuni.

Lebih ironis lagi, di media sosial dan grup-grup diskusi semua orang boleh memberikan jawaban (fatwa) atas suatu masalah agama, dengan mengatakan ini halal, haram, syirik, bidah dan lain sebagainya, tanpa didasari oleh dalil dari al-Qur’an dan AS-Sunnah dengan pemahaman yang benar. Hal ini lah yang menjadikan kebodohan semakin merajarela.

Imam al-Bukhari rahimahullah ta’ala meriwayatkan dalam sahihnya :

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ : مَرِضْتُ فَعَادَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَهُمَا مَاشِيَانِ فَأَتَانِي وَقَدْ أُغْمِيَ عَلَيَّ فَتَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَبَّ عَلَيَّ وَضُوءَهُ فَأَفَقْتُ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَصْنَعُ فِي مَالِي كَيْفَ أَقْضِي فِي مَالِي فَلَمْ يُجِبْنِي بِشَيْءٍ حَتَّى نَزَلَتْ آيَةُ الْمَوَارِيثِ

Dari Muhammad bin al Munkadir, ia mendengar Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahuanhuma berkata : “Aku pernah sakit. Maka Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar radhiyallahuanhu menjengukku dengan berjalan kaki. Beliau mendatangiku saat aku pingsan. Rasulullah ﷺ mengambil air wudhu dan memercikkannya kepadaku sehingga aku siuman”. Aku bertanya : “Wahai, Rasulullah, apa yang harus aku lakukan terhadap hartaku? Apa yang harus aku perbuat terhadap hartaku”  akan tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjawab dengan sesuatu pun, hingga turun ayat tentang pembagian warisan”. [Sahih Bukhari, kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-Sunnah, no. 7309].

Riwayat di atas menunjukkan bagaimana Rasulullah ﷺ tidak menjawab suatu pertanyaan tentang agama, karena belum tahu jawabannya hingga Allah Ta’ala menurunkan wahyu-Nya.

Begitu juga banyak kisah dari para ulama, saat mereka ditanya tentang hal yang belum yakin atas jawabnnya, tanpa sungkan mereka berkata “tidak tahu”, “aku tidak mengetahuinya”, dan lain sebgainya. Dan hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi keilmuan mereka. Bahkan itu adalah tanda kehati-hatian mereka dalam menyampaikan agama Islam ini. Karena agama adalah warisan para Nabi, maka sudah seharusnya para ulama’ menjaga warisan tersebut hingga akhir hayatnya.

Selanjutnya, kepada siapa seharusnya kita bertanya tentang agama ??

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya :

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}

 

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui“. (An-Nahl: 43)

Berkata al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di  rahimahullah tentang ayat di atas :

“Keumuman ayat ini di dalamnya terdapat sanjungan terhadap ulama dan sesungguhnya tingkatan ilmu yang tertinggi adalah pengetahuan akan Kitabullah (Al-Quran) yang diturunkan oleh-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan siapa yang tidak mengetahui, untuk kembali kepada mereka (ulama) di semua perkara. Ayat ini mengandung penetapan dan rekomendasi bagi ulama untuk menjadi tempat bertanya. Hal tersebut (bermakna) larangan mengikuti orang bodoh. Maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah memperhatikan mereka dalam wahyu dan kitab-Nya, dan mereka (ulama) diperintahkan untuk mensucikan diri mereka dan bersifat dengan sifat sempurna. Dan sebaik-bai ahاlu dzikri (ahli ilmu) adalah orang-orang yang faham tentang al-Quran al-Adzim, sesungguhnya meraka adalah ulama yang sebenarnya”.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk penulis dan kaum muslimin secara umum, dan tidak semabarangan dalam menjawab pertanyaan, tidak pula bertanya tentang agama kepada orang yang tidak memiliki kafa’ah keilmuan terhadap Al-Qura’an dan As-Sunnah dengan baik.

Allahu a’lam bis showaab.

Disusun oleh: Alwan Fathoni, BA. (Staf pengajar di Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta.)


Posting terkait dengan Kepada Siapa Kita Bertanya tentang Agama Islam?







Hubungi bagian Sekretariat Pondok

Hubungi Kami