` MENGENAL THAHARAH : Pondok Pesantren Imam Bukhari Surakarta

MENGENAL THAHARAH

Sat 25 صفر 1440AH 3-11-2018AD Adab dan Akhlaq, Artikel dan Kajian Tags:

Pengertian Thaharah:

Secara bahasa, makna thaharah ialah membersihkan dan melepaskan diri dari kotoran; baik yang bersifat lahiriah, seperti najis berupa air kencing atau yang lainnya; maupun yang bersifat maknawi, seperti perbuatan tercela dan maksiat.

Adapun secara syar’i, makna thaharah ialah menghilangkan sesuatu yang bisa menghalangi keabsahan shalat, baik berupa hadats maupun najis, dengan menggunakan air atau yang lainnya; atau menghilangkan hukumnya dengan menggunakan debu.

 

Jenis-jenis Thaharah:

Para ulama membagi thaharah menjadi 2:

  1. Thaharah haqiqiyyah, yaitu bersuci dari najis. Thaharah jenis ini terjadi pada badan, pakaian, dan tempat shalat.
  2. Thaharah hukmiyyah, yaitu bersuci dari hadats. Thaharah jenis ini terjadi khusus pada badan saja.

Berikut pembahasan secara terperinci dari 2 jenis thaharah di atas:

 

Thaharah Haqiqiyyah

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa thaharah haqiqiyyah adalah thaharah/bersuci dari najis. Sedangkan pengertian najis itu sendiri ialah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh syariat. Sehingga untuk menentukan najis atau tidaknya suatu benda harus berdasarkan dalil dari syariat.

 

Benda-benda Najis

Berikut ini beberapa benda yang oleh syariat dihukumi sebagai benda najis:

  1. Air kencing manusia

Dalil yang menunjukkan atas najisnya kotoran manusia adalah sabda Nabi :

إذا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الأَذَى، فَإِنَّ التُّرابَ لَهُ طَهُورٌ

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran/najis, maka tanah bisa menjadi pensucinya.” (HR. Abu Dawud no. 385. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 411)

Dalil lain yang menunjukkan atas najisnya kotoran manusia juga ialah hadits-hadits yang memerintahkan untuk istinja’ (cebok dengan air), yang insya Allah akan disampaikan pada pembahasannya nanti.  

 

  1. Kotoran manusia

Dalil yang menunjukkan atas najisnya air kencing manusia adalah hadits Anas a\ bahwa suatu hari ada seorang Arab Badui yang kencing di masjid. Maka sebagian orang yang ada di masjid berdiri hendak menghardiknya. Namun Rasulullah bersabda:

دَعُوهُ وَلَا تُزْرِمُوهُ

“Biarkan dia! Jangan kalian hentikan kencingnya!”

Tatkala selesai kencing, Rasulullah meminta seember air, lalu menyiramkannya ke tanah yang dikencingi tersebut. (HR. al-Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

 

  1. Air madzi

Air madzi ialah air yang lembut dan lengket, yang keluar dari kemaluan ketika sedang bersyahwat, seperti ketika sedang bercumbu dengan istri. Air ini keluar tidak dengan memancar, tidak pula disertai rasa letih setelahnya, bahkan terkadang tidak terasa ketika keluar.

Dalil yang menunjukkan atas najisnya air madzi ini ialah sabda Nabi kepada orang yang bertanya kepadanya tentang air madzi:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

Hendaknya ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

 

  1. Air wadi

Air wadi ialah air yang bening dan kental, yang keluar dari kemaluan setelah kencing.

Dalil yang menunjukkan atas najisnya air wadi ialah hadits dari Zur’ah berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas d\ berkata:

المَنِي وَالوَدِي والمَذِي، أَمَّا المَنِي: فَهُوَ الَّذِي مِنْهُ الغُسْلُ، وَأَمَّا الوَدِي وَالمَذِي فَقَالَ: اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيْرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضْوْءَكَ لِلصَّلَاةِ

“Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani, maka ia merupakan penyebab mandi besar. Adapun wadi dan madzi, maka ia berkata: Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. al-Baihaqi no. 800)

 

  1. Darah haid

Berdasarkan hadits dari Asma’ binti Abu Bakar d\ berkata: Ada seorang wanita yang datang kepada Nabi lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, ada salah seorang di antara kami yang pakaiannya terkena darah haid. Apa yang harus ia lakukan?” Maka Rasulullah menjawab:

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ

“Hendaknya ia mengerik pakaian itu, lalu menguceknya dengan air, lalu menyiramnya. Setelah itu silakan ia menggunakan pakaian itu untuk shalat.” (HR. al-Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291)

 

Bersambung….


Posting terkait dengan MENGENAL THAHARAH







Hubungi bagian Sekretariat Pondok

Hubungi Kami