` Pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam : Imam Bukhari

Pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam

Wed 1 رجب 1438AH 29-3-2017AD Siroh

Lima tahun berselang dari Hilf al Fudhul, tepatnya ketika Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam berusia 25 tahun, Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam menikahi Khadijah bintu Khuwailid Radhiallahu ‘an Haa , seorang janda terhormat, mulia dan kaya raya.

Khadijah Radhiallahu ‘an Haa sebelum menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah menikah dengan dua orang. Pertama dengan ‘Atiq bin A’idz al Makhzumi dan melahirkan seorang puteri. Setelah itu, ia menikah dengan Abu Haalah Hindun bin an Nabaasy at Tamimi. Dari pernikahan yang kedua ini melahirkan seorang anak lelaki bernama Hindun dan seorang anak perempuan. Abu Haalah meninggal di masa Jahiliyah.[1]

Namun Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqaat menjelaskan, orang pertama yang menikahi Khadijah adalah Abu Haalah, yang bernama Hindun bin an Nabaasy bin Zurarah, lalu melahirkan seorang putra bernama Hindun, kemudian dinikahi oleh ‘Atiq bin ‘Abid bin ‘Abdulah al Makhzumi dan melahirkan seorang puteri bernama Hindun. Hindun ini, menikah dengan Shaifi bin Umaiyyah bin ‘Abdi bin Abdullah.[2]

Pernikahan Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam dengan Khadijah Radhiallahu ‘an Haa  merupakan perkara yang pasti dan disepakati kaum Muslimin dengan dasar pernyataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘an Haa :

 

لَمْ يَتَزَوَّجْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak menikahi wanita lain atas Khadijah sampai Khadijah wafat.(HR Muslim).

 

Imam Ibnu Hajar  menyatakan, ini termasuk yang disepakati para ulama sejarah. Demikian juga pujian dan keutamaan Khadijah yang banyak disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam sebagai bukti kongkret jika Khadijah merupakan salah satu istri Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Bahkan sebagai istri yang pertama Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Diriwayatkan, Khadijah adalah seorang wanita terhormat, banyak  tokoh kaumnya yang ingin menikahinya. Ia banyak melakukan investasi dalam perdagangan dengan cara mudharabah. Hal inilah yang menjadi awal perkenalan Khadijah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Namun, riwayat-riwayat yang menjelaskan secara detail perkenalan dan usaha Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam mengelola dagangan Khadijah hingga pernikahannya, seluruhnya merupakan riwayat yang lemah walaupun sangat terkenal.

Dr. Akrom Dhiya’ al Umari menyatakan, riwayat-riwayat yang lemah –bahkan kebanyakan sangat lemah- menjelaskan secara detail berkenaan pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dengan Mmmul Mu’minin Khadijah bintu Khuwailid. Riwayat-riwayat ini menjelaskan awal perkenalan keduanya melalui kerja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam mengelola perdagangan Khadijah. Dia adalah orang kaya yang menginvestasikan hartanya.[3]

Menurut Dr. Akrom Dhiya’ al Umari, walaupun maklumat-maklumat ini tidak shahih secara kaidah hadits, namun sangat terkenal di kalangan ahli sejarah.[4]

Riwayat-riwayat yang lemah tersebut menjelaskan awal perkenalan keduanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bekerja mengelola perdagangan Khadijah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam membawa dagangan Khadijah dua kali ke kota Jursy -dekat kota Khomis Masyith- Yaman. Pernah juga ke Hubaasyah pasar Negeri Tuhamah dan Negeri Syam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam berangkat bersama budak laki-laki Khadijah yang bernama Maisarah.

Selama berinteraksi inilah, Maisarah melihat ketinggian dan kemuliaan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Sehingga ia menceritakan apa yang dilihatnya tersebut kepada Khadijah. Mendengar cerita Maisarah ini, serta merta Khadijah dibuat kagum oleh perilaku mulai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Lalu dia menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam sebagai suaminya.

Mendengar keinginan Khadijah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bermusyawarah dengan para pamannya dan mereka pun menyetujuinya. Kemudian Beliau berangkat bersama Hamzah bin Abdil Muthalib untuk meminang Khadijah kepada orang tuanya. Dan Beliau menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor anak onta.[5]

Diriwayatkan juga dalam riwayat yang lemah, bahwa yang diminta Khadijah untuk menyampaikan kesediaan beliau dipersunting Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam adalah teman dekatnya yang bernama Nafiisah bintu Maniyah, dan Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wassallam menyetujuinya.

Para ulama berselisih pendapat yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut. Ibnu Ishaaq menyatakan, yang menikahkan adalah Khuwalid bin Asad, bapak Khadijah. Sedangkan ulama lainnya menyatakan, menjadi walinya adalah pamannya yang bernama ‘Amru bin Asad. Ada juga yang menyatakan, walinya adalah saudaranya yang bernama ‘Amru bin Khuwailid. Yang rajih, insya Allah, adalah bapaknya sendiri yang menikahkannya.[6]

Demikian juga terdapat perbedaan pendapat tentang usia Khadijah ketika menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Al Waaqidi [7] menyatakan, umurnya kala itu 40 tahun dan inilah yang terkenal secara umum. Namun Ibnu Ishaaq [8] menyatakan, usianya kala itu 28 tahun.

Memang tidak terdapat satu riwayat pun yang shahih tentang usia Khadijah ketika menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam . Namun melihat anak-anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam yang dilahirkan Khadijah, yaitu berjumlah 6 orang, semuanya dilahirkan sebelum kenabian, kecuali ‘Abdullah. Tampaknya, pendapat Ibnu Ishaaq lebih kuat dari al Waaqidi, karena umumnya wanita pada usia di atas 40 tahun sudah mulai mendekati masa-masa menapouse (berhenti haidhnya). Dan Ibnu Ishaaq lebih kredibel dari Al Waqidi.

Begitu pula penulis kitab as Sirah ash Shahihah, tampaknya merajihkan pendapat Ibnu Ishaaq ini, walaupun yang mashur adalah pendapat al Waaqidi. Wallahu a’lam.

Beliau menikah dan tinggal menetap di rumah Khadijah dan memperoleh anugerah enam orang anak, lima anak lahir sebelum kenabian dan satu setelah kenabian. Mereka adalah al Qaasim (meninggal masih kecil), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, ‘Abdullah yang lahir setelah kenabian dan dipanggil juga dengan panggilan ath Thahir atau ath Thayyib.

Seluruh anak laki-laki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam meninggal dunia ketika masih kecil, sedangkan puteri-puterinya berumur panjang mendapati kenabian dan masuk Islam, serta berhijrah bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam ke kota Madinah.

Demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan Khadijah membina keluarganya di rumah tersebut, sampai Khadijah meninggal di sana. Sepeninggal sang istri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam masih tetap menghuni rumah tersebut sampai berhijrah ke kota Madinah.

Dari kisah di atas kita dapat mengambil beberapa faidah.

  1. Keinginan Khadijah seorang wanita terhormat dan mulia memilih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam  sebagai suaminya, menunjukkan ketinggian dan kemulian akhlak Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam .
  2. Bukan satu kesalahan dan bukan hal yang memalukan, jika seorang wanita shalihah menampakkan keinginan menikah dengan seorang laki-laki yang shalih
  3. Khadijah memiliki keutamaan dan kedudukan terhormat di tengah kaumnya dan dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam , sehingga dia menjadi istri tercinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam .[9]
  4. Pertemuan wanita terhormat yang menjaga harga diri dan martabatnya, dengan seorang yang terpercaya, berakhlak mulia dan pernikahan yang melahirkan anak-anak ini merupakan kemulian yang Allah anugerahkan kepada NabiNya agar memiliki kedudukan sosial dan nama baik di masyarakatnya.[10]
  5. Pernikahan antara Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam dan Khadijah ini merupakan taqdir Allah dan pilihan Allah, agar dapat menjadi pendamping Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam , meringankan beban dan membantunya mengemban tugas berat dan mulia, yaitu menyampaikan ajaran ilahi kepada sekalian manusia. Ternyata, Khadijah benar-benar telah mengeluarkan hartanya seluruhnya dan menjadi orang pertama yang beriman kepada kerasulan beliau n dikala orang-orang mengingkarinya. Khadijah membenarkan apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi Wassallam sampaikan dikala orang-orang mendustakannya. Sehingga beliau menjadi penghuni Surga, memiliki banyak keutamaan dan kedudukan yang tinggi.[11]
  6. Kisah pernikahan ini menunjukkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak terlalu memperhatikan kenikmatan jasad saja. Seandainya Beliau memperhatikan hal ini, tentunya akan memilih istri yang perawan dan lebih muda. Ini menunjukkan beliau menikahi Khadijah lantaran kehormatan dan keluhuran wanita yang dijuluki dengan al ‘Afifah ath Thahirah (Wanita terhormat dan suci).[12]

 

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

[1] Hal ini disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (14/287).

[2] As Sirah an Nabawiyah fi al Mashodir al Ashliyah, hlm. 134.

[3] As Sirah ash Shahihah, Dr. Akrom Dhiya’ al Umari (1/112).

[4] Ibid (1/113).

[5] Diringkas dari riwayat-riwayat yang lemah seputar kisah pernikahan beliau n dari beberapa referensi.

[6] Sebagaimana dirajihkan al Hafizh Ibnu Hajar, Dr Akrom Dhiya’ al Umari, Dr. Mahdi Rizqullah dan lain-lainnya.

[7] Para ulama menghukuminya dengan perkataan: Matruk (perawi yang lemah sekali).

[8] Seorang shaduq dan perawi hadits hasan.

[9] Lihat as Sirah an Nabawiyah fi al Mashodir al Ashliyah, hlm. 137.

[10] Ibid.

[11] Lihat as Sirah an Nabawiyah, Muhammad Abu Faaris, hlm. 123.

[12] Lihat as Sirah an Nabawiyah fi al Mashodir al Ashliyah, hlm. 137.


Posting terkait dengan Pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam